SINTANG – Bencana kabut asap yang melanda Indonesia dalam beberapa tahun terakhir bukan karena aktifitas perladangan tradisional, tetapi karena pemanfaatan lahan untuk aktifitas ekonomi diatas lahan gambut, yang arealnya sangat luas sehingga menyebabkan bencana kabut asap.

Perladangan tradisional sendiri sudah dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Adat Dayak dan tidak pernah dijaman dahulu ada kabut asap, karena masyarakat Dayak memiliki kearipan lokal dengan alam dan lingkungannya, semua aktivitas perladangan dipayungi dengan adat istiadat dan tatacara tersendiri, misalnya saja : masyarakat Dayak selalu menghindari lahan gambut untuk ladang, (pertanian lahan kering), dalam pembakaran lahan selalu diberi batas api (ladak : ibanic ) yang lebarnya sekitar 3 meter sebagai batas api, yang selalu dikerjakan terlebih dahulu sebelum pembakaran dilakukan, pembakaran juga dilakukan dan dijaga secara bersama terutama di batas batas api yang telah dibuat dan dijaga hingga puluhan orang (budaya gotong royong : royong dalam istilah mualang: ibanic), pembakaran juga dilakukan dengan cara melihat arah angin sehingga api tidak menjalar ke tempat yang tidak di inginkan.

Pembakaran juga dilakukan pada sore atau malam hari sehingga memudahkan pengawasan terhadap api, lahan untuk berladang juga luasnya terbatas dan tidak lebih dari 2 hektar, sebelum melakukan pembakaran ladang dilakulan selalu didahului dengan Berdoa dan meminta petunjuk kepada Tuhan yang Maha Esa (Jubata: Petara) supaya dihindarkan dari segala mara bahaya termasuk kebakaran, baru pembakaran lahan dimulai, semua ritual ini harus dijalani sebelum pembakaran lahan dilakukan.

“Praktek ini sudah ada bahkan jauh sebelum negri ini lahir yang dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat lokal (Dayak),” ungkap Michell Eko Hardian, SG. MH.

Bencana kabut asap justru lahir ketika perkebunan perkebunan skala besar masuk ke Kalimantan yang membuka lahan dengan cara membakar ( cara yang murah dan mudah), tak terkecuali lokasi yang terdapat di lahan gambut dengan areal yang sangat luas, kehadiran perusahaan perkebunan skala besar ini turut andil terhadap kerusakan hutan Kalimantan.

“Kita sangat menyayangkan pernyataan yang mengkriminalisasi dan menyudutkan peladang tradisional yang berladang hanya untuk memenuhi kehidupan mereka sehari-hari sebagai penyebab kabut asap. Harusnya kita belajar dari masyarakat lokal dan peladang bagaimana mereka menjaga ekosistem hutan kalimantan selama ratusan bahkan ribuan tahun sampai pemilik modal (investor besar) merusak semuanya, merusak hutan atas dasar kepentingan ekonomi belaka,”ujarnya.

“Oleh karenanya stop kriminalisasi terhadap peladang tradisional, jangan kambing hitamkan mereka lagi, bersikaplah bijak bagi kepentingan semua tanpa mengorbankan rakyat kecil,” tegas Michell Eko Hardian, Tokoh Pemuda Dayak Kalbar, Akademisi dan Pengurus Majelis Adat Dayak Nasional.

Foto
Michell Eko Hardian, SH. MH

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here